Kamis, 05 Agustus 2010

Story Lab Semarakkan Bandung di "Bragakeun Bragaku"



























Animo masyarakat cukup bagus sejak dibuka secara resmi pukul 09.00 di Jalan Braga Minggu 25 Juli 2010. Ratusan warga yang hadir di kawasan Braga dan Cikapundung, berbaur dalam rangkaian kegiatan “Semarak Bandung”. BCCF (Bandung Creative City Forum) sebagai penyelenggaranya.

Kegiatan ini di ikuti berbagai komunitas yang ada di Bandung. Story Lab sebagai sebuah sekolah sinematografi dan sanggar sinema, ikut meramaikan kegiatan tersebut.

Tepat di sebelah stand PMB (Perhimpunan Mahasiswa Bandung), Stand Story Lab di isi dengan berbagai peralatan produksi film dan mencoba menjual beberapa karya yang di produksi berupa film pendek. Penjualan tersebut tidak untuk mencari keuntungan secara materi, tetapi sebagai penguji untuk karya film pendek terhadap masyarakat. Dan ternyata antusiasme warga Bandung sangat baik sekali terhadap film pendek. Terbukti film pendek karya Story Lab laris manis terjual.

Dalam kegiatan ini Story Lab merupakan satu-satunya lembaga atau komunitas yang bergerak di bidang sinematografi. Rasa penasaran warga Bandung terhadap dunia sinematografi nampak begitu jelas ketika melintasi stand Story Lab. Sebagai bentuk keingintahuan warga, berbagai pertanyaan muncul seperti bagaimana proses produksi sebuah film dilakukan.

Pada puncak acara, Story Lab memutarkan video di big screen di tengah-tengan stand pameran, sebuah behind the scene film pendek "Senyum Pagi Ini" karya First Story siswa-siswa Story Lab dan 3 film pendek karya Story Lab (Rasa Rindu, Doku, 2500 Puisi). Pemutaran ini cukup menyita perhatian para pengunjung pameran.

Dewasa ini dunia sinematografi kian diminati oleh kalangan anak muda, khususnya pelajar dan mahasiswa/i. Terbukti dengan semakin maraknya produk-produk sinema yang melibatkan para remaja dan mahasiswa, baik dalam proses produksinya maupun pada sesi pemutaran karya sinemanya. Diharapkan pula dengan hadirnya Story Lab di tengah masyarakat khususnya di kegiatan ini, film bisa menyentuh diberbagai lapisan masyarakat.

Salam Sinema,

Andi Pardede


Mangga Malam Mingguan #7 (Sabtu, 24 Juli 2010) Hening Setengah Babak, Meriah di Babak Selanjutnya







Sebelum pemutaran dimulai, seperti biasa acara ini dipandu oleh Edwin Salengke tapi kali ini partnernya adalah Maryam Supraba. Pertanyaan, Iwa Kartiwa Sakumaha Ayana kemana ya ? sementara absen karena ada keperluan mendadak . "Torn" dan "Homecoming" terdengar merdu dilantunkan oleh "4 A While" band yang beranggotakan Fitrie (vocal), Reza (guitar), Yudist (drum), Galih (guitar), Budi (bass). Band ini pertama kalinya beraksi di acara Mangga Malam Mingguan, dan kepala sekolah Story Lab ketagihan dengan performa mereka (nanti maen lagi ya… !!).

"Rasa Rindu" mengawali tontonan ala layar tancep Mangga Malam Mingguan #7. Suasana hening sejenak selama 10 menit, karena film ini menyuguhkan sebuah suasana sepi. Tak lama kemudian suasana kembali riuh dengan suara applause dari penonton. Film ini di sutradarai oleh Nur Azis Widayanto dari Story Lab yang bercerita tentang seorang perempuan tuli yang menunggu kekasihnya di Stasiun Bandung, menyajikan dunia tanpa suara dari sudut pandang sang perempuan. Sunyi dan pelan.

"The Prime Witness" produksi LFM ITB yang di sutradarai Nanda Eka Putra tetapi sayang tidak hadir karena ada kesibukan, menjadi film ke dua yang diputar. Pertanyaan mengalir deras ketika diskusi walaupun ada kesalahan teknis pada pemutaran karena source yang diputar salah. Ini juga sebagai pelajaran untuk panitia dan filmmaker agar mempersiapkan keperluannya dengan baik sebelum acara dimulai. Film ini mengisahkan sebuah kasus pembunuhan. Arman (Adrian Pacul) satu-satunya saksi dalam kasus itu menderita kelainan amnesia anterograde yang membuatnya tidak dapat memproduksi ingatan baru. Kini, dua detektif ditugaskan untuk membangkitkan ingatan Arman dengan cara menginterogasinya, agar terungkap siapakah pembunuh itu sebenarnya.

Selanjutnya, giliran film “Sampai Besok” yang di sutradarai Lucky Kuswandi. Film ini menceritakan Sepasang kekasih muda menghabiskan hari terakhir mereka bersama di dalam rumah, menjalankan rutinitas mereka seperti biasanya dengan harapan agar hari esok tidak akan tiba. Berlanjut ke pemutaran behind the scene “Madame X” (Cerita di Balik Layar), film ini merupakan produksi terbaru dari rumah produksi Kalyana Shira Film yang di produseri oleh Nia Dinata dan di sutradarai Lucky Kuswandi. Film ini bergenre komedi super hero yang, ketika sebuah kota antah berantah terancam oleh kemunculan Kanjeng Badai dan partai politiknya yang militan. keselamatan negeri ini bergantung pada Adam (Aming), seorang penata rambut yang kemayu. Berbeda dengan tiga film sebelumnya yang menawarkan kesunyian, suasana berubah menjadi sangat meriah dengan diputarnya behind the scene ini. Di tambah dengan kehadiran pemeran utama film ini, Aming yang secara tiba-tiba muncul di tengah-tengah acara. Film ini akan tayang di bioskop pada 7 Oktober 2010. Diskusi berlangsung padat dengan berbagai pertanyaan yang muncul. Mungkin ini moment yang tepat buat para penonton untuk lebih mengenal dan mengatahui tentang sebuah produksi film panjang yang biasa diproduksi oleh sineas dan rumah produksi nasional.

Sebelum acara ditutup, panitia meyebarkan selembaran kertas kecil untuk kritik dan saran kepada penonton tentang acara ini. Pada umumnya penonton sangat appreciate dengan acara ini, beberapa kekurangan mereka keluhkan terutama pada masalah teknis pemutaran film dan kenyamanan menonton karena kurangnya tempat duduk. Ini menjadi PR untuk panitia agar bisa lebih baik lagi ke depannya.

Bertemu lagi di Mangga Malam Mingguan #8 dengan film-film yang tidak kalah menariknya dari teman-teman komunitas film lainnya.

Salam Sinema,

Andi Pardede


Minggu, 01 Agustus 2010

Kenangan













Masih ingat kah
Dulu saat kita slalu bersama
Menjalin cinta
Satukan hasrat berdua

Manja diriku
Hanya ingin lihat senyum dirimu
Hanya untukku
Yang kini tinggal kenangan

Bertemu berdua
Rasa rindu yang tlah ada ketika
Ku ingat memori bersama

Ingatan lalu
Masih jadi kan kekuatan bagi ku
Impian indah
Akan cinta sejati

Bertemu berdua
Rasa rindu yang tlah ada ketika
Ku ingat memori bersama

Sungguh ku terbuai
Dalam rindu yang haus akan cinta
Dirimu selalu kurindu

"Ingatan Lalu"
by : Omelette

Hari ini adalah sejarah untuk esok, apa yang sudah kita lakukan saat ini akan menjadi kenangan di masa yang akan datang. Kenangan, bisa senang bisa sedih. Semua orang pasti menginginkan sebuah kenangan yang indah dalam hidupnya.

Kalau saja penyesalan datang lebih awal, mungkin apa yang kita lakukan, nantinya akan menjadi kenangan indah dan akan selalu indah.

Tidak ada satu orangpun bisa melawan waktu.

Saya pernah membaca sebuah artikel tentang sebuah mesin waktu. Mesin ini mampu membawa manusia maksium 60tahun ke masa silam dgn kecepatan 10 tahun per jam. Mungkinkah alat itu akan ada nanti ?

Daripada nebak gak karuan mendingan lakukanlah hal yang terbaik saat ini karena saat ini adalah moment terbaik untuk melakukannya :)

Semoga kebahagian tidak hanya menjadi kenangan, tetapi menjadi bagian hidup kita dimanapun dan kapanpun selalu bahagia :)

Lakukanlah hal terbaik...


Bandung ( 22.36 )

Sabtu, 17 Juli 2010

Laporan Mangga Malam Mingguan #6 Lalu lintas tanya jawab ramai, tetapi kurang pedas dalam diskusi


Laporan Andi Pardede

Sudah keenam kalinya Mangga Malam Mingguan ( M3 ) diselenggarakan, dan tetap konsisten dengan acara pemutaran dan diskusi. Suasana pada M3 #6 agak sedikit terulang dengan dengan kondisi M3 #5, lalu lintas tanya jawab ramai tetapi kurang pedas dalam diskusi. 26 Juni merupakan moment yang spesial untuk Story Lab, karena menghadirkan film pendek “Senyum Pagi Ini” karya First Story siswa-siswi Story Lab Sekolah Sinematografi. Seperti biasa acara ini dipandu oleh duo garing edwin dan iwa yang kadang mencoba membikin penonton ketawa tapi gagal, tapi mereka belajar dari kegagalan tersebut dan akhirnya meriah juga. Mereka memang hebat kalau dipikir-pikir. Smoga kita semua tidak malas memikiran mereka, kasian mereka sudah berusaha. Oke kita lanjutkan dan lupakan sejenak duo garing itu.


Yaya bernyanyi
Sebelum film diputar, 2 lagu dilantunkan oleh Yaya sorang seniman kosan dengan membawakan lagu ciptaannya sendiri dan satu lagu lagi dari U2. Beberapa komunitas yang hadir seperti LFM ITB, RollTime, Komunitas Film Jurnalistik UIN Bandung dan CC Unpad dan penonton lainnya menambah semangat bagi panitia M3 agar tetap konsisten dengan ruang pemutaran film pendek ini. Terima kasih atas kedatangannya.

Film pertama yang diputar adalah “Senyum Pagi Ini” karya First Story ( Derry Rukmana, Fajar Arafat, Felly Pratama Putri, Yenny Ektasari, Intan Tamara Dewi, Riandini ) yang di sutradarai oleh Derry “Derru” Rukmana, film ini mengusung tema ruang pendidikan di Indonesia. Di M3#6 ini merupakan bagian dari proses belajar mereka di Story Lab Sekolah Sinemaografi, First Story mempresentasikan karyanya di depan


presentasi 1st story
penonton. Sinopsis : “Bella kecewa dengan nilai nilai 6 yang diberikan Pak Soleh dari tugas menggambarnya. Ingin rasanya Bella mendapatkan nilai yang memuaskan dan senyuman bangga dari Pak Soleh. Malam itu Bella berusaha keras membuat tugas prakaryanya demi nilai dan senyuman itu “. Teknik dasar sinematografi pada film ini cukup baik untuk sebuah team baru yang pertama kali memproduksi film.

Film ke dua “Naskah” yang diproduksi oleh CC Unpad dan disutradarai Satria Perdana. Film ini cukup memukau para penonton dengan dihadirkannya action Parkour olah raga yang berasal dari Perancis. Film ini menceritakan perjuangan seorang mahasiswa yang ingin menjadi penulis novel terkenal. Segala rintangan di hadapi dengan gaya Parkournya. Mungkin ini cikal bakal jacky chan Indonesia, semoga dan mari kita berdo’a

“100 kata”, film ini paling berbeda dari 4 film lainnya. Yusuf Wijanarko sebagai sutradara menawarkan sebuah komedi satir yang menceritakan tentang pembatasan bicara oleh pemerintah dimana masing-masing orang hanya boleh bicara 100 kata perhari. Secara sinematografi film ini cukup bagus dan dapat dinikmati, untuk ceritanya sendiri mungkin perlu kejelian agar film ini dapat dimengerti. 100 kata ini diproduksi oleh LA Light Indie Movie dan Set Film, di ajang tersebut film ini mendapatkan award untuk Special Mention.

Pemutaran terakhir menyuguhkan sebuah film komedi dan ini berhasil membut M3 #6 meriah. “Tone Of Evil” judul yang dipilih Myrdalsm Picture dalam produksi filmnya yang ke tujuh ini. Film yang disutradarai Myrdal ini menceritakan tentang sebuah gitar yang mempunyai daya mistis dan akan mempengaruhi gaya pemainnya. Hebat memang siapapun yang memakai gitar tersebut, tetapi pengaruh negatif pun membayangi setelah memakai gitar tersebut. Kesombongan menjadi ciri khas setelah memakai gitar tersebut. Pertanyaan pun muncul untuk film ini, ada satu adegan yang menghadirkan property sebuah perangko besar seukuran kertas A4. Perangko yang ukuran standar harganya Rp. 6000, nah yang sebesar A4 itu berapa ya harganya ? Dan siapa yang memproduksi perangko sebesar itu ( intermezo dikit ). Ide yang kreatif


suasana penonton M3 #6, tertarik?
Pemutaran selasai, saatnya diskusi. Lalu lintas tanya jawab pada M3 #6 ini cukup padat tetapi minim diskusi yang pedas. Pertanyaan yang muncul kebanyakan membahas tentang isi cerita yang di kemas oleh masing-masing filmmmaker. Semua pertanyaan yang diajukan penonton terjawab tanpa adanya perlawanan dari para penonton. Di akhir diskusi muncul komentar dari ketua Sanggar Sinema Story Lab ( S3L ) yang mengkritik pentingnya sebuah teknik sinematografi yang baik. Selama ini diskusi yang muncul hanya membahas isi cerita dalam film dan manurut Nikky CG ( ketua S3L ), disamping sebuah cerita yang menarik teknik sinematografi juga harus diperhatikan agar penonton dapat dengan nyaman menikmati film tersebut. Masukan yang oke, applause untuk ketua S3L

Demikian sebuah catatan tentang M3 #6, ketemu lagi di M3 #7 dengan sajian yang cukup berbeda.

Don’t Miss It…

Salam sinema

Selasa, 26 Januari 2010

Mangga Malam Mingguan

Semakin maraknya perfilman Indonesia akhir-akhir ini bisa dikatakan sebagai fenomena yang positif dalam industri film itu sendiri. Hampir setiap bulan bermunculan judul-judul film baru yang tersebar dibioskop Indonesia. Ditilik dari segi genre pun kini bisa dikatakan semakin beragam walaupun melulu menghadirkan tema percintaan dan tetap horror yang menjadi santapan utama di kancah perfilman Indonesia. Sehingga tak jarang para penikmat film pun merasa jenuh dengan film yang ada sekarang.
Story Lab sebagai sekolah sinematografi yang menghasilkan beberapa karya film pendek siswanya diakhir perkuliahan, tentunya membutuhkan tempat pemutaran. Hal itu dirasakan sama dengan komunitas-komunitas pembuat film pendek lainnya. Maka dari itu, Story Lab yang bermarkas di jalan Mangga 14 akan menjadi media pemutaran film-film pendek yang ada sekarang.
Maka dari itu, untuk menciptakan ruang eksistensi dan apresiasi bagi pembuat film pendek dan menciptakan suasana baru dalam menikmati film, Story Lab sebagai sekolah sinematografi mempunyai sebuah inovasi baru dalam menikmati film. Khususnya film pendek. Berawal dari beberapa film pendek yang ada di Story Lab dan beberapa komunitas yang tergabung dengan Story Lab, ide untuk menyuguhkan film pendek kepada khalayak pun dimulai. Disini, selain mononton film, para penikmat film bisa berdiskusi langsung dengan para pembuatnya.Dan untuk memeriahkan itu, acara ini akan dilaksanakan sekali dalam setiap bulannya.
Tujuan
- Menyebarluaskan semangat membuat film di berbagai kalangan terutama kalangan muda
- Memberikan sarana alternatif dalam menikmati film kepada para penikmat film.
- Sebagai ruang eksistensi dan apresiasi bagi pembuat film pendek.